BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ternak
ruminansia adalah ternak atau hewan yang
memiliki empat buah lambung dan mengalami proses memamahbiak atau proses
pengembalian makanan dari lambung kemulut untuk dimamah. Contoh hewan
ruminansia ini adalah ternak sapi, kerbau, kambing, serta domba. Hewan ini disebut juga hewan
berlambung jamak atau polygastric animal, karena lambungnya terdiri atas
rumen, retikulum, omasum dan abomasum.
Rumen
atau perut besar merupakan bagian terbesar dari susunan lambung ruminansia.
Namun rumen tidak dapat dipisahkan dari ketiga bagian lainnya, oleh karena itu
akan dibahas juga mengenai retikulum, omasum dan abomasum. Di samping
metabolisme dalam tubuh, pada ruminansia terjadi proses metabolisme dalam rumen
oleh mikroorganisme melalui proses fermentasi pakan.
Pelaku
utama pada proses fermentasi dalam rumen ialah mikroorganisme. Produk akhir
dari fermentasi adalah asam lemak terbang antara lain asam asetat, asam
propionat, asam butirat, asam formiat, asam valerat, asam suksinat, asam
laktat, ammonia, karbondioksida dan air, yang bagi mikroorganismenya itu
sendiri merupakan limbah, namun bagi induk semang merupakan sumber energi.
Adapun yang mendasari dilakukannya
praktikum ini yaitu untuk mengetahui sistem pencernaan sapi yang telah diawetkan dengan
fungsinya masing-masing.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah
dalam praktikum ini adalah bagaimana cara mengidentifikasikan
bentuk organ, nama organ, dan letak organ pada sistem pencernaan ruminansia (sapi) dan bagaimana cara menjelaskan fungsinya?
C. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk
mengetahui cara mengidentifikasikan
bentuk organ, nama organ, dan letak organ pada sistem pencernaan ruminansia (sapi) dan bagaimana cara menjelaskan fungsinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gambaran Umum
Ternak ruminansia adalah ternak
atau hewan yang memiliki empat buah
lambung dan mengalami proses memamahbiak atau proses pengembalian makanan dari
lambung ke
mulut untuk
dimamah. Contoh hewan ruminansia ini adalah ternak sapi, kerbau, kambing, serta
domba (Ardianto, 2014).
Ruminansia
adalah kelompok hewan mamalia yang bisa memahbiak (memakan) dua kali sehingga
kelompok hewan tersebut dikenal juga sebagai hewan memamah biak. Dalam sistem
klasifikasi, manusia dan hewan ruminansia pada umumnya mempunyai kesamaan ciri
dari sistem pencernaan hewan ruminansia dan manusia (Aak, 2001).
Ruminansia
adalah hewan-hewan yang mengandung sistem multi-bilik pencernaan (polygastric)
yang memungkinkan hewan untuk mendapatkan sebagian besar kebutuhan gizi mereka
dari tumbuhan hijau dan roughages lainnya. Tumbuhan hijau mengacu pada rumput, roughages
mengacu pada sumber makanan yang tinggi serat (Ardianto, 2014).
Hewan yang
memamah biak secara teknis dalam ilmu peternakan serta zoologi dikenal sebagai
ruminansia. Hewan-hewan ini mendapat keuntungan karena pencernaannya menjadi
sangat efisien dalam menyerap nutrisi yang terkandung dalam makanan, dengan
dibantu mikroorganisme di dalam perut-perut pencernanya. Semua hewan yang
termasuk subordo Ruminantia memamah biak, seperti sapi, kerbau, kambing,
domba, jerapah, bison, rusa, kancil, gnu, dan antilop. Ruminansia yang
bukan tergolong subordo Ruminantia misalnya unta dan lama. Kuda,
walaupun bukan poligastrik, memiliki modifikasi pencernaan yang efisien pula (Nursyamfarm, 2014)
Hewan memamah biak (Ruminansia) adalah hewan herbivora
murni, contohnya sapi, kerbau dan kambing. Disebut hewan memamah biak karena
memamah atau mengunyah makanannya sebanyak dua fase. Pertama saat makanan
tersebut masuk ke mulut, makanan tersebut tidak dikunyah hingga halus dan
terus ditelan, selang beberapa waktu makanan tersebut dikeluarkan kembali ke
mulut untuk dikunyah sampai halus (Dudee, 2014).
Ternak sangat berguna dan
bermanfaat bagi kehidupan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl/16: 80.
ª!$#ur @yèy_ /ä3s9 .`ÏiB öNà6Ï?qãç/ $YZs3y @yèy_ur /ä3s9 `ÏiB Ïqè=ã_ ÉO»yè÷RF{$# $Y?qãç/ $ygtRqÿÏtGó¡n@ tPöqt öNä3ÏY÷èsß tPöqtur öNà6ÏGtB$s%Î) ô`ÏBur $ygÏù#uqô¹r& $ydÍ$t/÷rr&ur !$ydÍ$yèô©r&ur $ZW»rOr& $·è»tGtBur 4n<Î) &ûüÏm ÇÑÉÈ ٰ
Terjemahnya :
“Dan Allah menjadikan bagimu
rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah
(kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya
di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari
bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan
(yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)” (Qs. An-Nahl : 80).
Dari
surah An-Nahl : 80 di atas dijelas bahwa dari seekor ternak memiliki banyak
sekali manfaat dalam kehidupan manusia diantaranya yaitu kulitnya yang dapat
dimanfaat sebagai rumah (kemah-kemah), alat-alat rumah tangga dan perhiasan (pakaian).
Kemudian
dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Nya
kepada manusia untuk dijadikan tanda keesaan-Nya. Allah menganugerahkan rumah
bagi manusia. Rumah-rumah itu tidak hanya tempat tinggal atau berlindung dari
hujan dan panas tetapi juga rumah itu menciptakan suasana aman damai dan
tenteram serta menumbuhkan kasih sayang dan rasa kesetiaan di antara
penghuninya. Dari rumah tangga yang baik, lahir manusia yang baik. Agama Islam
menetapkan aturan untuk menjamin kehormatan rumah tempat diam. Kepada bangsa
pengembara seperti halnya Badui Allah SWT memberikan nikmat kepada manusia
dengan menyediakan kulit binatang ternak untuk keperluan tempat tinggal mereka.
Nikmat Allah lainnya kepada manusia ialah pemanfaatan
bulu dan kulit binatang ternak itu untuk keperluan pakaian, alat-alat keperluan
rumah tangga dan lain-lainnya. Seperti bulu domba (wool), kulit unta, bulu
kulit kambing. Barang-barang ini merupakan barang-barang yang dapat mereka
perdagangkan sejak zaman dahulu sampai sekarang. Dari ayat ini, dapat diambil
suatu dalil hukum bahwa kulit dan bulu dari ternak yang halal dimakan adalah
suci (Rahman, 2010).
Sapi adalah hewan ternak anggota
familia Bovidae dan subfamilia
Bovinae. Sapi merupakan binatang pemamah biak, bertanduk, berkuku
genap, berkaki empat, dan bertubuh besar. Sapi dipelihara
terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya
sebagai bahan pangan. Hasil sampingan, seperti kulit, jeroan, dan tanduknya
juga kemudian dimanfaatkan. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai untuk
membantu bercocok tanam, seperti menarik gerobak atau bajak (Dudee, 2014).
Menurut Dudee (2014), menyatakan bahwa klasifikasi
sapi yaitu:
Kerajaan
: Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Mammalia
Ordo
: Artiodactyla
Famili
: Bovidae
Upafamili
: Bovinae
Genus : Bos
Spesies
: B. Taurus
Ternak merupakan
mahluk ciptaan Allah SWT yang
akan dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan makanan berupa sumber protein
hewani dan tenaga yang akan bermanfaat bagi manusia. Hal ini sesuai dengan
firman Allah swt dalam QS. An-Nahl/16: 66.
خَالِصًا بَنًالَ وَدَمٍ فَرْثٍ
بَيْنِ مِنْ بُطُونِهِ فِي مِمَّا
نُسْقِيكُمْ ۖ لَعِبْرَةً الْأَنْعَامِ فِي
لَكُمْ وَإِنَّ
رِبِينَ لِلشَّا سَائِغًا
Terjemahnya:
Dan
sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu.
Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu
yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang
meminumnya (QS. An- Nahl ayat 66).
Surat An-Nahl/16 : 66 di atas dijelaskan bahwa bagaimana manusia
mensyukuri dan memikirkan nikmat besar yang telah diberikan allah SWT kepadanya
melalui seekor ternak yang mereka pelihara. Sesudah itu Allah SWT meminta
perhatian para hamba-Nya agar memperhatikan binatang ternak karena sesungguhnya
pada binatang ternak itu terdapat pelajaran yang berharga bagi para hamba-Nya
yang dapat menunjukkan kekuasaan Nya, menciptakan ciptaan yang indah. Maha Luas Rahmat Nya terhadap para
hamba Nya; dan air susu binatang ternak itulah manusia mendapat minuman yang
lezat rasanya, mudah dicerna dan berguna bagi kesehatan. Seseorang yang suka
memperhatikan, dapat mengambil pelajaran betapa Maha Kuasanya Allah memisahkan
susu yang bersih itu dari darah dan kotoran binatang. Binatang itu makan
rerumputan. Dari rumput itulah sari-sari makanan diserap oleh butiran-butiran
darah merah di perut besar sapi itu, sedang bagian-bagian yang tidak berguna
dikeluarkan sebagai kotoran. Kemudian dari tanah itulah dipisahkan air susu
sebagai minuman yang sangat lezat mudah ditelan bagi orang yang hendak
meminumnya (Rahman, 2010).
B. Tinjauan Khusus
Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu
proses yang disebut memamah biak (ruminasi).
Pakan berserat (hijauan) yang dimakan ditahan untuk sementara di dalam rumen.
Pada saat hewan beristirahat, pakan yang telah berada dalam rumen dikembalikan
ke mulut (proses regurgitasi), untuk
dikunyah kembali (proses remastikasi),
kemudian pakan ditelan kembali (proses
redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim
mikroba rumen. Kontraksi retikulorumen
yang terkoordinasi dalam rangkaian proses tersebut bermanfaat pula untuk
pengadukan digesta inokulasi dan
penyerapan nutrien. Selain itu kontraksi retikulorumen
juga bermanfaat untuk pergerakan digesta meninggalkan retikulorumen melalui retikulo-omasal
orifice (Hasanah, 2011).
Hewan ruminansia memiliki seperangkat alat pencernaan
seperti rongga mulut (gigi) pada hewan ruminansia terdapat gigi gerahan yang
besar yang berfungsi untuk menggiling dan menggilas serta mengunyah rerumputan
yang mengandung selulosa yang sulit dicerna (Hasanah, 2011).
Proses
pencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan
proses pencernaan pada jenis ternak lainnya. Hewan memamah biak (Ordo Artiodactyla
atau hewan berkuku genap, terutama dari subordo Ruminantia) adalah
sekumpulan hewan pemakan tumbuhan (herbivora) yang mencerna makanannya
dalam dua langkah, pertama dengan menelan bahan mentah, kemudian mengeluarkan
makanan yang sudah setengah dicerna dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan-hewan
ini tidak hanya memiliki satu ruang (monogastrik) tetapi lebih dari satu
ruang (poligastrik, harafiah: berperut banyak) (Nursyamfarm, 2014).
Menurut Biologigonz (2014) yang menyatakan
bahwa saluran pencernaan hewan memamah biak
terdiri atas organ-organ pencernaan sebagai berikut :
1.
Rongga
Mulut (Cavum Oris)
Gigi yang terdapat dalam rongga mulut berbeda dengan mamalia
lain dalam hal berikut:
a. Gigi seri (insisivus) mempunyai
bentuk yang sesuai untuk menjepit makanan berupa tumbuh-tumbuhan seperti rumput.
b. Gigi taring (caninus) tidak
berkembang.
c. Gigi geraham belakang (molare) berbentuk
datar dan lebar.
Makanan yang direnggut dengan bantuan lidah
secara cepat dikunyah dan dicampur dengan air liur dalam mulut, kemudian
ditelan masuk ke dalam lambung melalui esofagus.
2.
Kerongkongan
(Esofagus)
Esofagus merupakan
saluran penghubung antara rongga mulut dengan lambung. Di sini tidak
terjadi proses pencernaan. Esofagus pada sapi sangat pendek dan lebar,
serta lebih mampu membesar (berdilatasi). Esofagus berdinding
tipis dan panjangnya bervariasi, diperkirakan sekitar lima cm.
3. Lambung
Lambung sapi sangat
besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari
isi rongga perut,lambung sapi terdiri atas empat bagian, yaitu rumen, retikulum, omasumdan
abomasumdengan
ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas
rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8% dan abomasum 7-8%.
Rumen berfungsi
sebagai tempat fermentasi oleh mikroba rumen, absorpsi VFA (Volatyl Fatty Acid), amonia dan
menyimpan bahan makanan untuk difermentasi. Retikulum berfungsi sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen, tempat
fermentasi, membantu proses ruminasi, mengatur arus ingesta ke omasum dan
absorbsi hasil fermentasi. Omasum berfungsi menggiling partikel makanan,
fermentasi dan mengabsorbsi air. Abomasum merupakan tempat pertama terjadinya
pencernaan secara kimiawi.
4. Usus Halus
Usus pada sapi sangat panjang, usus
halusnya bisa mencapai 4 m. Hal ini dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian
besar terdiri dari serat (selulosa) enzim selulase yang
dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa
menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan biogas yang berupa CH4
yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Bagian usus halus yaitu duodenum, jejenum
dan ilium, duodenum sebagai bagian pertama dari usus kecil
berfungsi sebagai tempat pemecahan nutrisi pakan menjadi lebih sederhana yang
dilakukan oleh enzim. Bagian selanjutnya secara berturut-turut adalah jejunum
dan ilium, hasil kemudian diserap melalui pembuluh darah. Usus
besar terdapat sekum dan colon berbentuk tabung berstruktur sederhana dengan
fungsi sekum fermentasi oleh mikroba dan pada colon absorpsi VFA (Volatyl Fatty Acid) dan air.
5.
Sekum
Sekum pada ruminansia lebih besar
dibandingkan dengan sekum karnivora. Hal ini disebabkan karena makanan hewan
pemakan tumbuhan bervolume besar dan proses pencernaannya berat, sedangkan pada
karnivora volume makanannya kecil dan percernaan berlangsung dengan cepat.
Materi pakan yang masuk ke dalam sekum selanjutnya dicerna lagi oleh
sekelompok mikroorganisme yang ada didalamnya.
6. Usus Besar
Pada usus besar terjadi penyerapan kembali oleh sekelompok
mikroorganisme dari hasil penyerapan di dalam usus halus dan di dalam usus
besar terjadi proses penyerapan air. Usus besar terbagi menjadi cecum, kolon, dan rektum. Gambaran histologis
usus besar secara umum yaitu mengandung kripta Lieberkuhn yang lebih panjang dan lebih lurus pada tunika mukosa dibandingkan dengan usus halus. Epitel usus besar berbentuk silinder dan mengandung jauh lebih banyak sel Goblet dibandingkan usus halus. Lamina propria usus besar terdiri atas jaringan ikat retikuler dan nodulus limfatikus.
Seperti pada usus halus, tunika
muskularis mukosa pada usus besar terdiri atas lapisan sirkular sebelah
dalam dan lapisan longitudinal sebelah luar. Tunika mukosa terdiri atas
jaringan ikat longgar, lemak, dan pleksus Meissner. Di sebelah
luar tunika mukosa terdapat tunika muskularis eksterna dan tunika serosa. Tunika serosa ini terdiri atas mesotelium dan jaringan ikat subserosa.
7. Anus
Anus pada ternak ruminansia sama
kegunaannya dengan anus pada manusia yaitu tempat pembuangan sisa makanan
berupa ampas. Ketika rektum penuh akan terjadi peningkatan tekanan di
dalamnya dan memaksa dinding dari saluran anus. Paksaan ini menyebabkan feses
masuk ke saluran anus. Pengeluaran feses diatur oleh otot sphinkter.
Ternak ruminansia
merupakan ternak yang efisien dalam pemanfaatan pakan. Ruminansia mampu
memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah dan kandungan serat kasar tinggi.
Disamping itu juga, mampu membuat protein sendiri didalam tubuh yang dihasilkan
dari sumber N pakan. Akan tetapi, ruminansia cenderung boros energy, karena
sekitar 7-8% hasil metabolism berbentuk methan harus dibuang dari dalam tubuh.
Kelebihan methan dapat mengakibatkan kembung.
Pencernaan merupakan degradasi makromolekul menjadi mikromolekul atau
hidrolisis polimer menjadi monomer atau penguraian zat yang kompleks menjadi
zat yang lebih sederhana (Prakkasi, 2004).
Menurut Prakkassi
(2004), pencernaan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.
PencernaanMekanik
Pencernaan mekanik merupakan pencernaan
mengubah pakan menjadi bagian - bagian yang lebih kecil atau sederhana.
Pencernaan mekanik dilakukan dimulut dengan bantuan gigi.
Pencernaan mekanik ada beberapa tahap.
Tahap-tahap tersebut adalah: (1) Prehension yaitu proses pengambilan pakan,
misalnya ternak sapi menggunakan bantuan lidah; (2) Mastikasi yaitu proses
pengunyahan pakan, dengan tujuan untuk memperkecil volume pakan; (3) Salivasi
yaitu proses membasahi pakan dengan saliva; dan (4) Deglutisi yaitu proses penelanan pakan. Ternak sapi merupakan ternak memamahbiak,
pakan yang telah dimakan akibat dari gerakan bolus pakan maka pakan dimuntahkan kembali kemulut untuk dilakukan remastikasi, reen salivasi dan redeglutisi.
2.
Pencernaan Fermentatif
Pencernaan fermentatif merupakan pencernaan yang menghasilkan produk yang
jauh berbeda dengan senyawa asal. Pencernaan ini membutuhkan bantuan atau peran dari mikroba. Contohnya adalah protein setelah mengalami fermentasi berubah menjadi ammonia.
3.
Pencernaan Hidrolitik
Pencernaan hidrolitik merupakan pencernaan untuk menguraikan senyawa yang lebih kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Pencernaan ini umumnya dibantu oleh peran enzim. Contohnya adalah protein dirubah menjadi asam amino dan lemak dirubah menjadi gliserol dan asam lemak.
Pencernaan
hewan ruminansia sangat berbeda dengan hewan monogastrik. Pada hewan ruminansia
terjadi dua proses penting dalam melakukan pencernaan yaitu pada tahap pertama
pencernaan secara mekanik yang terjadi dalam mulut dengan bantuan gigi dan
saliva, di dalam mulut makanan yang berupa serat dihaluskan dan dicampur dengan
saliva kemudian dilanjutkan ketahapan pencernaan kedua berupa pencernaan
fermentatif yang melibatkan mikroorganisme yang terdapat di dalam organ
pencernaan yang disebut sebagai rumen. Rumen merupakan organ pencernaan berupa
lambung yang terdiri dari rumen, retikulum, omasum dan abomasums. Proses
pencernaan fermentatif di dalam retikulum, rumen terjadi sangat intensif dan
dalam kapasitas yang sangat besar. Proses pencernaan tersebut terletak sebelum
usus halus atau organ penyerapan utama, hal tersebut sangat menguntungkan
karena makanan yang didapatkan diubah dan disajikan dalam bentuk produk
fermentasi yang mudah diserap oleh hewan ruminansia, serta menjadikan kemampuan
pemanfaatan pakan serat dalam jumlah lebih banyak akan lebih efisien (Soetanto,
2007).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat
Waktu dilaksanakan pada hari jumat, 27 November 2015 pukul 14.00-16.30
WITA di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
B.
Alat
dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1.
Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis
menulis, masker, meja, meteran, kacamata
dan sarung tangan.
2.
Bahan
Adapun
bahan yang diguanakan dalam praktikum ini adalah air, aquades, formalin, organ
dalam pencernaan sapi yang telah diawetkan, dan sunlight.
C. Prosedur Kerja
Adapun
prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Menyediakan saluran pencernaan sapi yang diawetkan 1 tahun yang lalu
dan 3 hari yang lalu mulai
dari esophagus sampai anus pada meja praktikum.
2.
Memperhatikan alat-alat pencernaan
tersebut hingga kita bisa mengetahui bentuk organ, ukuran organ dan nama organ pencernaan
pada sapi.
3.
Melakukan pengukuran setiap organ
pencernaan dengan meteran yang telah disediakan.
4.
Mencatat hasilnya pada tabel pengamatan
yang telah tersedia.
5.
Membersihkan organ pencernaan sapi yang
telah diawetkan.
6.
Melakukan pengawetan terhadap organ
pencernaan pada sapi dengan perbandingan 5:1
Diagram Alir
|
Organ
Pencernaan Sapi
|
|
Mengukur
|
|
Memperhatikan
|
|
Mengawetkan
|
|
Membersihkan
|
|
Mengamati
|
Sumber : Data Primer, 2015
senghasil
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
1. Sistem
Pencernaan Ternak Sapi yang diawetkan 3 hari yang lalu
a.
|
|
|
|
Sumber: Laboratorium Teknologi Hasil Sumber: Dudee, 2014.
Ternak, 2015.
2. Tabel
1. Pengukur, Bentuk Organ dan Fungsi
|
No
|
Organ Pencernaan
|
Ukuran organ (cm)
|
Bentuk Organ
|
Fungsi
|
|
1.
|
Esophagus
|
45
cm
|
Memanjang dan
terdapat cincin-cincin
|
Sebagai jalan makanan menuju perut
besar atau lambung
|
|
2.
|
Rumen
|
65 cm
|
Seperti handuk
|
Sebaai
tempat utama proses pencernaan yang berlangsung secara fermentatif. Tempat
fermentasi oleh mikroba rumen.
|
|
3.
|
Reticulum
|
30 cm
|
Sarang lebah
|
Sebagai
tempat absorpsi dan penyeleksian benda-benda asing yang ikut masuk bersama
pakan.
|
|
4.
|
Omasum
|
10 cm
|
Perut Kitab seperti buku
|
Membantu proses menggiling
partikel makanan, menyerap air bersama pakan.
|
|
5.
|
Abomasum
|
45 cm
|
Perut sejati
|
Tempat
permulaan pencernaan enzimatis dan pencernaan protein.
|
|
6.
|
Usus halus
|
105 cm
|
Halus dan panjang
|
Sebagaipencernaan enzimatis dan absorpsi, terjadi proses
penyerapan sari-sari makanan.
|
|
7.
|
Sekum
|
40 cm
|
Berada diantara usus halus dan besar
|
sebagai
fermentasi oleh mikroba
|
|
8.
|
Usus Besar
|
260 cm
|
Bentuknya
besar dan panjang
|
Sebagai
tempat absorbsi air. sisa-sisamakanan yang tidak diserap dikirim ke usus
besar. Setelah mengalami penyerapan air, sisa makanan berupa ampas dikeluarkan
melalui anus.
|
|
9.
|
Rectum / anus
|
115 cm
|
Panjang dan tidak terlalu besar
|
Tempat
pengeluaran terakhir.
|
Sumber:
Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas
Islam
Negeri Alauddin, Makassar, 2015.
3.
Sistem Pencernaan Sapi yang diawetkan 1
tahun yang lalu
a.
|
|
|
|
Sumber:
Laboratorium Teknoogi Hasil Sumber:
Dudee,2014.
Ternak, 2015.
4.
Tabel II. Pengukuran, Bentuk Organ dan
Fungsi
|
No
|
Organ Pencernaan
|
Ukuran organ (cm)
|
Bentuk Organ
|
Fungsi
|
|
1.
|
Esophagus
|
-
|
Memanjang dan
terdapat cincin-cincin
|
Sebagai jalan makanan menuju perut
besar atau lambung
|
|
2.
|
Rumen
|
60 cm
|
Seperti handuk
|
Sebaai
tempat utama proses pencernaan yang berlangsung secara fermentatif.
|
|
3.
|
Reticulum
|
35 cm
|
Sarang lebah
|
Sebagai
tempat absorpsi dan penyeleksian benda-benda asing yang ikut masuk bersama
pakan.
|
|
4.
|
Omasum
|
9 cm
|
Perut Kitab seperti buku
|
Membantu proses menggiling
partikel makanan, menyerap air bersama pakan.
|
|
5.
|
Abomasum
|
40,7 cm
|
Perut sejati
|
Tempat
permulaan pencernaan enzimatis dan pencernaan protein.
|
|
6.
|
Usus halus
|
354 cm
|
Halus dan panjang
|
Sebagaipencernaan enzimatis dan absorpsi, terjadi proses
penyerapan sari-sari makanan.
|
|
7.
|
Sekum
|
36 cm
|
Berada diantara usus halus dan besar
|
sebagai
fermentasi oleh mikroba
|
|
8.
|
Usus Besar
|
340 cm
|
Bentuknya
besar dan panjang
|
Sebagai
tempat absorbsi air. sisa-sisamakanan yang tidak diserap dikirim ke usus
besar. Setelah mengalami penyerapan air, sisa makanan berupa ampas
dikeluarkan melalui anus.
|
|
9.
|
Rectum
|
60 cm
|
Panjang dan tidak terlalu besar
|
Tempat
pengeluaran terakhir.
|
Sumber:
Laboratorium Teknologi Hasil Ternak,
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri
Alauddin, Makassar, 2015.
B.
Pembahasan
Sapi merupakan binatang
pemamah biak, bertanduk, berkuku genap, berkaki empat, dan bertubuh besar. Sapi
dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan.
Sapi merupakan hewan pemamah biak, yang berarti mempunyai sistem pencernaan
yang memungkinkan penggunaan makanan jika dicerna sebanyak dua kali kemudian dicerna khusus oleh mikroorganisme dalam rumen. Organ-organ
sistem pencernaan sapi dimulai dari mulut, esophagus, rumen, retikulum, omasum,
abomasum, usus halus, sekum, usus besar, dan terakhir anus.
Praktikum ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui organ-organ sistem pencernaan pada sapi,
mengetahui ukuran setiap organ-organ pencernaan sapi yang dimulai dari
esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, usus halus, sekum, usus besar,
dan anus, mengetahui bentuk luar dan bentuk dalam organ pencernaan tersebut,
serta mengetahui fungsi dari masing-masing organ tersebut.
1. Esophagus
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan
hasil panjang Esophagus pada organ
pencernaan sapi yang diawetkan 3 hari yang lalu 45 cm sedangkan yang diawetkan
1 tahun yang lalu kita tidak menemukan organ Esophagusnya. bentuk dari Esophagus yaitu memanjang dan terdapat
seperti cincin-cincin disepanjang salurannya atau seperti pipa. Esophagus
berfungsi sebagai jalan makanan menuju perut besar atau lambung.
Hal ini
sesuai dengan pendapat Prakkassi (2004), yang menyatakan bahwa organ yang
terlalu lama diawetkan akan seringkali terpisah dari organ lain sehingga dapat
menyebabkan organ tersebut hilang atau tidak dapat diamati dengan dengan.
2.
Rumen
Berdasarkan
hasil pengamatan didapatkan hasil ukuran rumen yang diawetkan 3 hari yang lalu
adalah 65 cm sedangkan ukuran rumen yang diawetkan 1 tahun yang lalu 60 cm,
bentuk dari rumen adalah ukurannya besar dan bentuknya tidak beraturan,
sedangkan bentuk dalam rumen terdapat papilla yang berbulu atau seperti handuk.
Fungsi rumen adalah sebagai tempat pencernaan fermentatif, sebagai penampung
sementara makanan setelah dicerna, dan absorsi VFA.
Hal ini
sesuai dengan pendapat Hakim (2009),
yang menyatakan bahwa pada organ yang telah diukur hasilnya akan berbeda yang
disebabkan oleh organ-organ tersebut sudah diawetkan
sehingga akan mengalami pengerutan.
3. Retikulum
Berdasarkan
hasil pengamatan didapatkan bahwa ukuran reticulum yang diawetkan 3 hari yang
lalu adalah 30 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu 35 cm. Bentuk dari retikulum adalah ukurannya kecil dan
bentuknya tidak beraturan dan seperti sarang lebah. Fungsi retikulum adalah sebagai
perombak partikel kasar menjadi lebih sederhana pada saat regurtasi rumen dan
menyeleksi benda-benda asing yang ikut masuk bersama pakan.
Hal ini
tidak sesuai dengan pendapat Hakim (2009),
yang menyatakan bahwa pada organ yang telah diukur hasilnya akan berbeda yang
disebabkan oleh organ-organ tersebut sudah diawetkan
sehingga akan mengalami pengerutan.
4. Omasum
Berdasarkan
hasil pengamatan diatas didapat, bahwa ukuran omasum yang diawetkan 3 hari yang
lalu adalah 10 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 9 cm,
bentuk dari omasum adalah bundar, padat, dan keras dan juga seperti sususan
buku. Fungsi omasum adalah sebagai penyaring partikel yang
lebih besar, serta penyerapan air, dan nutrisi.
Hal
ini sesuai dengan pendapat Harfiah
(2009), yang menyatakan bahwa ukuran yang
berbeda pada organ pencernaan ini dipengaruhi oleh umur
ternak yang masih muda atau penyambungan organ-organ pencernaan tersebut sudah ada yang putus.
5.
Abomasum
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa
ukuran abomasum yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 45 cm
sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 40,7 cm. Bentuk dari abomasum adalah lonjong dan kenyal dan
sering disebut perut sejati. Fungsi abomasum adalah Sebagai tempat terjadi
pencernaan secara kimiawi, yaitu memecah protein, karbohidrat, dan lemak.
Hal ini
tidak sesuai dengan pendapat Hakim (2009),
yang menyatakan bahwa pada organ yang telah diukur hasilnya akan berbeda yang
disebabkan oleh organ-organ tersebut sudah diawetkan
sehingga akan mengalami pengerutan.
6.
Usus Halus
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa
ukuran usus halus yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 105 cm
sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 354 cm. Bentuk dari usus halus adalah panjang, kenyal, serta
memiliki sekat atau lataran duodenum, jejunum, dan ileum. Fungsi usus halus
adalah sebagai tempat pemecahan nutrisi pakan
menjadi lebih sederhana yang dilakukan oleh enzim.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hasanah (2011), yang
menyatakan bahwa usus halus mempunyai bentuk panjang, halus dan mudah
memanjang. Maka dari itu organ yang terlalu lama diawetkan akan mengalami
penambahan panjang karena terlalu sering diukur panjangnya dan menyebabkan
ukurannya selalu berbeda.
7. Sekum
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa ukuran sekum yang
diawetkan 3 hari yang lalu adalah 40 cm sedangkan yang diawetkan 1
tahun yang lalu adalah 36 cm. Bentuk sekum adalah lebih pendek dibandingkan dengan
usus halus, terdapat antara usus halus dan usus besar. Fungsi sekum adalah Sebagai
menyerap cairan dan garam yang masih tersisa setelah selesai pencernaan dibantu
oleh mikroorganisme yang terdapat di dalam sekum.
Hal ini tidak sesuai dengan pendapat
Hakim (2009), yang menyatakan bahwa pada organ yang
telah diukur hasilnya akan berbeda yang disebabkan oleh organ-organ
tersebut sudah diawetkan sehingga akan mengalami pengerutan.
8. Usus Besar
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa
ukuran usus besar yang diawetkan 3 hari yang lalu dalah 260 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu
adalah 340 cm. Bentuk usus besar adalah
bentuknya besar dan pendek, serta ukurannya lebih panjang dari sekum, dan
kenyal. Fungsi usus besar adalah sebagai tempat absorbsi
air, tempat terjadinya pembusukan pakan, mengeleminasi sisa makanan berupa
ampas dikeluarkan melalui anus
Hal ini sesuai dengan pendapat Tim Dosen (2015), yang menyatakan bahwa ukuran
organ dapat berbeda-berbeda karena disebabkan oleh umur ternak yang masih muda, penyambungan
organ organ pencernaan tersebut sudah
ada yang putus, perbedaan bangsa ternak, serta kurang ketelitian pada saat
pengukuran.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang
dapat diambil dari praktikum ini adalah sistem pencernaan pada ternak sapi
memiliki saluran pencernaan yaitu mulai dari mulut berfungsi untuk mengunyah pakan,
pharyx berperan dalam
proses ruminansi dan eruktasi, esophagus sebagai sebagai jalan makanan menuju perut besar atau lambung,
rumen berperan tempat
utama proses pencernaan yang berlangsung secara fermentatif, retikulum berfungsi membantu proses ruminasi bolus,
sebagai penahan partikel pakan
pada saat regurgitasi rumen, omasum sebagai pembantu proses menggiling makanan,
abomasum berperan sebagai
tempat pencernaan enzimatiz, usus kecil proses pnyerapan sari-sari makanan,
sekum sebagai fermentasi
mikroba,
usus besar sebagai tempat
absorpsi air dan anus
sebagai tempat pembuangan akhir.
B. Saran
Adapun saran dari praktikum ini yaitu diharapkan kepada praktikan sebelum
melakukan praktikum sebaiknya alat dan bahan telah di siapkan terutama juga
pada sarung tangan supaya tidak bersentuhan lansung pada formalin karna akan
merusak kulit.
DAFTAR PUSTAKA
Aak, 2001. Sapi
Potong dan Kerja. Yogyakarta : Kanisius.
Ardianto,
Aris. 2014. “Ternak Ruminansia
dan Non Ruminansia”. http:// ayisakin.
blog spot.com/ 2012/03/ ternak-ruminansia-dan-non- ruminansia.html.
(28 November 2015).
Biologigonz. 2014. Pencernaan Ruminansia.
http:// biologigonz.blogspot. com/
/01/pencernaan-ruminansia.
html. (Diakses tanggal 28 November 2015).
Blakely. 2006. Ilmu Peternakan
edisi IV. Yogyakarta
: Gadjah Mada University Press.
Dudee, 2014. Pencernaan Ruminansia. http://dodee88. wordpress.com/2009/01/03/67/.
(Diakses pada tanggal 28 November 2015).
Harfiah. 2009. Peningkatan
Kualitas Pakan Berserat Dengan Perlakuan Alkali, Amoniasi, Dan Fermentasi Dengan Mikroba
Selulitik Dan Lignolitik. Makassar. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.
Hasahah. 2011. Peranan Syaraf dan Hormon (Neuroendrokin) Dalam
Pergerakan Lambung Pada Sistem Pencernaan Ruminansia. Bandung. FP MIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Hernawati. 2011. Peranan Syaraf dan
Hormon (Neuroendrokin) Dalam Pergerakan Lambung Pada Sistem Pencernaan
Ruminansia. Bandung: FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Nursyamfarm, 2014 Sistem Pencernaan Ruminansia. file:///C:/Users/sarjana/Documents/TR%20N%20R.htm.
(Diakses 28 November 2015).
Prakkasi, A. 2004. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Jakarta:
UI Press.
Rahman, Abd. 2010. Hewan Ternak yang
Halal di Komsumsi. Budi Luhur: Malang.
Soetanto, Hendrawan. 2007. Bahan Kuliah Nutrisi Ruminansia. Malang:
Universitas Brawijaya Press.
Syahrir, dkk. 2008. Efektivitas Daun Murbei Sebagai Pengganti
Konsentrat dalam Sistem Rumen in Vitro.
Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian.
Tim Dosen. 2015. Penuntun
Praktikum Ilmu Ternak Ruminansia
dan Non Ruminansia. Makassar: Universitas Islam Negeri
Alauddin.