Selasa, 21 Juni 2016

LAPORAN TERNAK RUMIANANSIA


 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ternak ruminansia adalah ternak atau  hewan yang memiliki empat buah lambung dan mengalami proses memamahbiak atau proses pengembalian makanan dari lambung kemulut untuk dimamah. Contoh hewan ruminansia ini adalah ternak sapi, kerbau, kambing, serta domba. Hewan ini disebut juga hewan berlambung jamak atau polygastric animal, karena lambungnya terdiri atas rumen, retikulum, omasum dan abomasum.
Rumen atau perut besar merupakan bagian terbesar dari susunan lambung ruminansia. Namun rumen tidak dapat dipisahkan dari ketiga bagian lainnya, oleh karena itu akan dibahas juga mengenai retikulum, omasum dan abomasum. Di samping metabolisme dalam tubuh, pada ruminansia terjadi proses metabolisme dalam rumen oleh mikroorganisme melalui proses fermentasi pakan.
Pelaku utama pada proses fermentasi dalam rumen ialah mikroorganisme. Produk akhir dari fermentasi adalah asam lemak terbang antara lain asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam formiat, asam valerat, asam suksinat, asam laktat, ammonia, karbondioksida dan air, yang bagi mikroorganismenya itu sendiri merupakan limbah, namun bagi induk semang merupakan sumber energi.
Adapun yang mendasari dilakukannya praktikum ini yaitu untuk mengetahui sistem pencernaan sapi yang telah diawetkan dengan fungsinya masing-masing.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam praktikum ini adalah bagaimana cara mengidentifikasikan bentuk organ, nama organ, dan letak organ pada sistem pencernaan ruminansia (sapi) dan bagaimana cara  menjelaskan fungsinya?
C. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui cara mengidentifikasikan bentuk organ, nama organ, dan letak organ pada sistem pencernaan ruminansia (sapi) dan bagaimana cara  menjelaskan fungsinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Gambaran Umum
Ternak ruminansia adalah ternak atau  hewan yang memiliki empat buah lambung dan mengalami proses memamahbiak atau proses pengembalian makanan dari lambung ke mulut untuk dimamah. Contoh hewan ruminansia ini adalah ternak sapi, kerbau, kambing, serta domba (Ardianto, 2014).
Ruminansia adalah kelompok hewan mamalia yang bisa memahbiak (memakan) dua kali sehingga kelompok hewan tersebut dikenal juga sebagai hewan memamah biak. Dalam sistem klasifikasi, manusia dan hewan ruminansia pada umumnya mempunyai kesamaan ciri dari sistem pencernaan hewan ruminansia dan manusia (Aak, 2001).
Ruminansia adalah hewan-hewan yang mengandung sistem multi-bilik pencernaan (polygastric) yang memungkinkan hewan untuk mendapatkan sebagian besar kebutuhan gizi mereka dari tumbuhan hijau dan roughages lainnya. Tumbuhan hijau mengacu pada rumput, roughages mengacu pada sumber makanan yang tinggi serat (Ardianto, 2014).
Hewan yang memamah biak secara teknis dalam ilmu peternakan serta zoologi dikenal sebagai ruminansia. Hewan-hewan ini mendapat keuntungan karena pencernaannya menjadi sangat efisien dalam menyerap nutrisi yang terkandung dalam makanan, dengan dibantu mikroorganisme di dalam perut-perut pencernanya. Semua hewan yang termasuk subordo Ruminantia memamah biak, seperti sapi, kerbau, kambing, domba, jerapah, bison, rusa, kancil, gnu, dan antilop. Ruminansia yang bukan tergolong subordo Ruminantia misalnya unta dan lama. Kuda, walaupun bukan poligastrik, memiliki modifikasi pencernaan yang efisien pula (Nursyamfarm, 2014)
Hewan memamah biak  (Ruminansia) adalah hewan herbivora murni, contohnya sapi, kerbau dan kambing. Disebut hewan memamah biak karena memamah atau mengunyah makanannya sebanyak dua fase. Pertama saat makanan tersebut masuk ke mulut,  makanan tersebut tidak dikunyah hingga halus dan terus ditelan, selang beberapa waktu makanan tersebut dikeluarkan kembali ke mulut untuk dikunyah sampai halus (Dudee, 2014).
Ternak sangat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl/16: 80.
ª!$#ur Ÿ@yèy_ /ä3s9 .`ÏiB öNà6Ï?qãç/ $YZs3y Ÿ@yèy_ur /ä3s9 `ÏiB ÏŠqè=ã_ ÉO»yè÷RF{$# $Y?qãç/ $ygtRqÿÏtGó¡n@ tPöqtƒ öNä3ÏY÷èsß tPöqtƒur öNà6ÏGtB$s%Î)   ô`ÏBur $ygÏù#uqô¹r& $ydÍ$t/÷rr&ur !$ydÍ$yèô©r&ur $ZW»rOr& $·è»tGtBur 4n<Î) &ûüÏm ÇÑÉÈ   ٰ

Terjemahnya :
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)” (Qs. An-Nahl : 80).

Dari surah An-Nahl : 80 di atas dijelas bahwa dari seekor ternak memiliki banyak sekali manfaat dalam kehidupan manusia diantaranya yaitu kulitnya yang dapat dimanfaat sebagai rumah (kemah-kemah), alat-alat rumah tangga dan perhiasan (pakaian).
Kemudian dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Nya kepada manusia untuk dijadikan tanda keesaan-Nya. Allah menganugerahkan rumah bagi manusia. Rumah-rumah itu tidak hanya tempat tinggal atau berlindung dari hujan dan panas tetapi juga rumah itu menciptakan suasana aman damai dan tenteram serta menumbuhkan kasih sayang dan rasa kesetiaan di antara penghuninya. Dari rumah tangga yang baik, lahir manusia yang baik. Agama Islam menetapkan aturan untuk menjamin kehormatan rumah tempat diam. Kepada bangsa pengembara seperti halnya Badui Allah SWT memberikan nikmat kepada manusia dengan menyediakan kulit binatang ternak untuk keperluan tempat tinggal mereka. Nikmat Allah lainnya kepada manusia ialah pemanfaatan bulu dan kulit binatang ternak itu untuk keperluan pakaian, alat-alat keperluan rumah tangga dan lain-lainnya. Seperti bulu domba (wool), kulit unta, bulu kulit kambing. Barang-barang ini merupakan barang-barang yang dapat mereka perdagangkan sejak zaman dahulu sampai sekarang. Dari ayat ini, dapat diambil suatu dalil hukum bahwa kulit dan bulu dari ternak yang halal dimakan adalah suci (Rahman, 2010).
Sapi adalah hewan ternak anggota familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Sapi merupakan binatang pemamah biak, bertanduk, berkuku genap, berkaki empat, dan bertubuh besar. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Hasil sampingan, seperti kulit, jeroan, dan tanduknya juga kemudian dimanfaatkan. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai untuk membantu bercocok tanam, seperti menarik gerobak atau bajak  (Dudee, 2014).
Menurut Dudee (2014), menyatakan bahwa klasifikasi sapi yaitu:
Kerajaan    : Animalia
Filum         : Chordata
Kelas         : Mammalia
Ordo         : Artiodactyla
Famili       : Bovidae
Upafamili  : Bovinae
Genus       : Bos
Spesies       : B. Taurus
Ternak merupakan mahluk ciptaan Allah SWT yang akan dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan makanan berupa sumber protein hewani dan tenaga yang akan bermanfaat bagi manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam   QS. An-Nahl/16: 66.
خَالِصًا بَنًالَ وَدَمٍ فَرْثٍ بَيْنِ مِنْ بُطُونِهِ فِي مِمَّا نُسْقِيكُمْ ۖ لَعِبْرَةً الْأَنْعَامِ فِي لَكُمْ وَإِنَّ
رِبِينَ لِلشَّا سَائِغًا
Terjemahnya:
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya (QS. An- Nahl ayat 66).
                                                   
Surat An-Nahl/16 : 66 di atas dijelaskan bahwa bagaimana manusia mensyukuri dan memikirkan nikmat besar yang telah diberikan allah SWT kepadanya melalui seekor ternak yang mereka pelihara. Sesudah itu Allah SWT meminta perhatian para hamba-Nya agar memperhatikan binatang ternak karena sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran yang berharga bagi para hamba-Nya yang dapat menunjukkan kekuasaan Nya, menciptakan ciptaan yang indah. Maha Luas Rahmat Nya terhadap para hamba Nya; dan air susu binatang ternak itulah manusia mendapat minuman yang lezat rasanya, mudah dicerna dan berguna bagi kesehatan. Seseorang yang suka memperhatikan, dapat mengambil pelajaran betapa Maha Kuasanya Allah memisahkan susu yang bersih itu dari darah dan kotoran binatang. Binatang itu makan rerumputan. Dari rumput itulah sari-sari makanan diserap oleh butiran-butiran darah merah di perut besar sapi itu, sedang bagian-bagian yang tidak berguna dikeluarkan sebagai kotoran. Kemudian dari tanah itulah dipisahkan air susu sebagai minuman yang sangat lezat mudah ditelan bagi orang yang hendak meminumnya (Rahman, 2010).
B.  Tinjauan Khusus
Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yang disebut memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakan ditahan untuk sementara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakan yang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi), untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan kembali (proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim mikroba rumen. Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam rangkaian proses tersebut bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi dan penyerapan nutrien. Selain itu kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untuk pergerakan digesta meninggalkan retikulorumen melalui retikulo-omasal orifice (Hasanah, 2011).
Hewan ruminansia memiliki seperangkat alat pencernaan seperti rongga mulut (gigi) pada hewan ruminansia terdapat gigi gerahan yang besar yang berfungsi untuk menggiling dan menggilas serta mengunyah rerumputan yang mengandung selulosa yang sulit dicerna (Hasanah, 2011).
Proses pencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya. Hewan memamah biak (Ordo Artiodactyla atau hewan berkuku genap, terutama dari subordo Ruminantia) adalah sekumpulan hewan pemakan tumbuhan (herbivora) yang mencerna makanannya dalam dua langkah, pertama dengan menelan bahan mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan-hewan ini tidak hanya memiliki satu ruang (monogastrik) tetapi lebih dari satu ruang (poligastrik, harafiah: berperut banyak) (Nursyamfarm, 2014).
Menurut Biologigonz (2014) yang menyatakan bahwa saluran pencernaan hewan memamah biak terdiri atas organ-organ pencernaan sebagai berikut :
1.      Rongga Mulut (Cavum Oris)
Gigi yang terdapat dalam rongga mulut berbeda dengan mamalia   lain  dalam hal berikut:
a.    Gigi seri (insisivus) mempunyai bentuk yang sesuai untuk menjepit makanan berupa tumbuh-tumbuhan seperti rumput.
b.    Gigi taring (caninus) tidak berkembang.
c.    Gigi geraham belakang (molare) berbentuk datar dan lebar.
Makanan yang direnggut dengan bantuan lidah secara cepat dikunyah dan dicampur dengan air liur dalam mulut, kemudian ditelan masuk ke dalam lambung melalui esofagus.
2.      Kerongkongan (Esofagus)
Esofagus merupakan saluran penghubung antara rongga mulut dengan lambung. Di sini tidak terjadi proses pencernaan. Esofagus pada sapi sangat pendek dan lebar, serta lebih mampu membesar (berdilatasi). Esofagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi, diperkirakan sekitar lima cm.
3.      Lambung
Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut,lambung sapi terdiri atas empat bagian, yaitu rumen, retikulum, omasumdan abomasumdengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8% dan abomasum 7-8%.
Rumen berfungsi sebagai tempat fermentasi oleh mikroba rumen, absorpsi VFA (Volatyl Fatty Acid), amonia dan menyimpan bahan makanan untuk difermentasi. Retikulum berfungsi sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen, tempat fermentasi, membantu proses ruminasi, mengatur arus ingesta ke omasum dan absorbsi hasil fermentasi. Omasum berfungsi menggiling partikel makanan, fermentasi dan mengabsorbsi air. Abomasum merupakan tempat pertama terjadinya pencernaan secara kimiawi.


4.      Usus Halus
Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 4 m. Hal ini dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa) enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan biogas yang berupa CH4 yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Bagian usus halus yaitu duodenum, jejenum dan ilium, duodenum sebagai bagian pertama dari usus kecil berfungsi sebagai tempat pemecahan nutrisi pakan menjadi lebih sederhana yang dilakukan oleh enzim. Bagian selanjutnya secara berturut-turut adalah jejunum dan ilium, hasil kemudian diserap melalui pembuluh darah. Usus besar terdapat sekum dan colon berbentuk tabung berstruktur sederhana dengan fungsi sekum fermentasi oleh mikroba dan pada colon absorpsi VFA (Volatyl Fatty Acid) dan air.
5.      Sekum
 Sekum pada ruminansia lebih besar dibandingkan dengan sekum karnivora. Hal ini disebabkan karena makanan hewan pemakan tumbuhan bervolume besar dan proses pencernaannya berat, sedangkan pada karnivora volume makanannya kecil dan percernaan berlangsung dengan cepat. Materi pakan yang masuk ke dalam sekum selanjutnya dicerna lagi oleh sekelompok mikroorganisme yang ada didalamnya.



6.      Usus Besar
 Pada usus besar terjadi penyerapan kembali oleh sekelompok mikroorganisme dari hasil penyerapan di dalam usus halus dan di dalam usus besar terjadi proses penyerapan air. Usus besar terbagi menjadi cecum, kolon, dan rektum. Gambaran histologis usus besar secara umum yaitu mengandung kripta Lieberkuhn yang lebih panjang dan lebih lurus pada tunika mukosa dibandingkan dengan usus halus. Epitel usus besar berbentuk silinder dan mengandung jauh lebih banyak sel Goblet dibandingkan usus halus. Lamina propria usus besar terdiri atas jaringan ikat retikuler dan nodulus limfatikus. Seperti pada usus halus, tunika muskularis mukosa pada usus besar terdiri atas lapisan sirkular sebelah dalam dan lapisan longitudinal sebelah luar. Tunika mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar, lemak, dan pleksus Meissner. Di sebelah luar tunika mukosa terdapat tunika muskularis eksterna dan tunika serosa. Tunika serosa ini terdiri atas mesotelium dan jaringan ikat subserosa.
7.      Anus
Anus pada ternak ruminansia sama kegunaannya dengan anus pada manusia yaitu tempat pembuangan sisa makanan berupa ampas. Ketika rektum penuh akan terjadi peningkatan tekanan di dalamnya dan memaksa dinding dari saluran anus. Paksaan ini menyebabkan feses masuk ke saluran anus. Pengeluaran feses diatur oleh otot sphinkter.
Ternak ruminansia merupakan ternak yang efisien dalam pemanfaatan pakan. Ruminansia mampu memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah dan kandungan serat kasar tinggi. Disamping itu juga, mampu membuat protein sendiri didalam tubuh yang dihasilkan dari sumber N pakan. Akan tetapi, ruminansia cenderung boros energy, karena sekitar 7-8% hasil metabolism berbentuk methan harus dibuang dari dalam tubuh. Kelebihan methan dapat mengakibatkan kembung.  Pencernaan merupakan degradasi makromolekul menjadi mikromolekul atau hidrolisis polimer menjadi monomer atau penguraian zat yang kompleks menjadi zat yang lebih sederhana (Prakkasi, 2004).
Menurut Prakkassi (2004), pencernaan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.    PencernaanMekanik
Pencernaan mekanik merupakan pencernaan mengubah pakan menjadi bagian - bagian yang lebih kecil atau sederhana. Pencernaan mekanik dilakukan dimulut dengan bantuan gigi.
Pencernaan mekanik ada beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut adalah: (1) Prehension yaitu proses pengambilan pakan, misalnya ternak sapi menggunakan bantuan lidah; (2) Mastikasi yaitu proses pengunyahan pakan, dengan tujuan untuk memperkecil volume pakan; (3) Salivasi yaitu proses membasahi pakan dengan saliva; dan (4) Deglutisi yaitu proses penelanan pakan. Ternak sapi merupakan ternak memamahbiak, pakan yang telah dimakan akibat dari gerakan bolus pakan maka pakan dimuntahkan kembali kemulut untuk dilakukan remastikasi, reen salivasi dan redeglutisi.
2.    Pencernaan Fermentatif
Pencernaan fermentatif merupakan pencernaan yang menghasilkan produk yang jauh berbeda dengan senyawa asal. Pencernaan ini membutuhkan bantuan atau peran dari mikroba. Contohnya adalah protein setelah mengalami fermentasi berubah menjadi ammonia.
3.      Pencernaan Hidrolitik
Pencernaan hidrolitik merupakan pencernaan untuk menguraikan senyawa yang lebih kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Pencernaan ini umumnya dibantu oleh peran enzim. Contohnya adalah protein dirubah menjadi asam amino dan lemak dirubah menjadi gliserol dan asam lemak.
Pencernaan hewan ruminansia sangat berbeda dengan hewan monogastrik. Pada hewan ruminansia terjadi dua proses penting dalam melakukan pencernaan yaitu pada tahap pertama pencernaan secara mekanik yang terjadi dalam mulut dengan bantuan gigi dan saliva, di dalam mulut makanan yang berupa serat dihaluskan dan dicampur dengan saliva kemudian dilanjutkan ketahapan pencernaan kedua berupa pencernaan fermentatif yang melibatkan mikroorganisme yang terdapat di dalam organ pencernaan yang disebut sebagai rumen. Rumen merupakan organ pencernaan berupa lambung yang terdiri dari rumen, retikulum, omasum dan abomasums. Proses pencernaan fermentatif di dalam retikulum, rumen terjadi sangat intensif dan dalam kapasitas yang sangat besar. Proses pencernaan tersebut terletak sebelum usus halus atau organ penyerapan utama, hal tersebut sangat menguntungkan karena makanan yang didapatkan diubah dan disajikan dalam bentuk produk fermentasi yang mudah diserap oleh hewan ruminansia, serta menjadikan kemampuan pemanfaatan pakan serat dalam jumlah lebih banyak akan lebih efisien (Soetanto, 2007).

                                     BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Waktu dan Tempat
Waktu dilaksanakan pada hari jumat, 27 November 2015 pukul 14.00-16.30 WITA di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
B.     Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.    Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis menulis, masker, meja, meteran,  kacamata dan sarung tangan.
2.    Bahan
Adapun bahan yang diguanakan dalam praktikum ini adalah air, aquades, formalin, organ dalam pencernaan sapi yang telah diawetkan, dan sunlight.
C.  Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.        Menyediakan saluran pencernaan sapi yang diawetkan 1 tahun yang lalu dan 3 hari yang lalu mulai dari esophagus sampai anus pada meja praktikum.
2.      Memperhatikan alat-alat pencernaan tersebut hingga kita bisa mengetahui bentuk organ, ukuran organ dan nama organ pencernaan pada sapi.
3.      Melakukan pengukuran setiap organ pencernaan dengan meteran yang telah disediakan.
4.      Mencatat hasilnya pada tabel pengamatan yang telah tersedia.
5.      Membersihkan organ pencernaan sapi yang telah diawetkan.
6.      Melakukan pengawetan terhadap organ pencernaan pada sapi dengan perbandingan 5:1
Diagram Alir
Organ Pencernaan Sapi
Mengukur
Memperhatikan
 







Mengawetkan
Membersihkan
Mengamati
 






Sumber : Data Primer, 2015


senghasil
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan
1.      Sistem Pencernaan Ternak Sapi yang diawetkan 3 hari yang lalu
a.      
Gambar Asli                                  b. Gambar Literatur





Sumber: Laboratorium Teknologi Hasil            Sumber: Dudee, 2014.
Ternak, 2015.

2.      Tabel 1. Pengukur, Bentuk Organ dan Fungsi
No
Organ Pencernaan
Ukuran organ (cm)
Bentuk Organ
Fungsi
1.
Esophagus
45 cm
Memanjang dan terdapat cincin-cincin
Sebagai jalan makanan menuju perut besar atau lambung
2.
Rumen
65  cm
Seperti handuk
Sebaai tempat utama proses pencernaan yang berlangsung secara fermentatif. Tempat fermentasi oleh mikroba rumen.
3.
Reticulum
30 cm
Sarang lebah
Sebagai tempat absorpsi dan penyeleksian benda-benda asing yang ikut masuk bersama pakan.
4.
Omasum
10 cm
Perut Kitab seperti buku
Membantu proses menggiling partikel makanan, menyerap air bersama pakan.
5.
Abomasum
45 cm
Perut sejati
Tempat permulaan pencernaan enzimatis dan pencernaan protein.
6.
Usus halus
105 cm
Halus dan panjang
Sebagaipencernaan enzimatis dan absorpsi, terjadi proses penyerapan sari-sari makanan.
7.
Sekum
40 cm
Berada diantara usus halus dan besar
sebagai fermentasi oleh mikroba
8.
Usus Besar
260 cm
Bentuknya besar dan panjang
Sebagai tempat absorbsi air. sisa-sisamakanan yang tidak diserap dikirim ke usus besar. Setelah mengalami penyerapan air, sisa makanan berupa ampas dikeluarkan melalui anus.
9.
Rectum / anus
115 cm
Panjang dan tidak terlalu besar
Tempat pengeluaran terakhir.
Sumber: Laboratorium  Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
               Islam Negeri  Alauddin, Makassar, 2015.

3.      Sistem Pencernaan Sapi yang diawetkan 1 tahun yang lalu
a.      
Gambar Asli                                              b. Gambar Literatur






Sumber: Laboratorium Teknoogi Hasil                     Sumber: Dudee,2014.
Ternak, 2015.


4.      Tabel II. Pengukuran, Bentuk Organ dan Fungsi
No
Organ Pencernaan
Ukuran organ (cm)
Bentuk Organ
Fungsi
1.
Esophagus
 -
Memanjang dan terdapat cincin-cincin
Sebagai jalan makanan menuju perut besar atau lambung
2.
Rumen
60 cm
Seperti handuk
Sebaai tempat utama proses pencernaan yang berlangsung secara fermentatif.
3.
Reticulum
35 cm
Sarang lebah
Sebagai tempat absorpsi dan penyeleksian benda-benda asing yang ikut masuk bersama pakan.
4.
Omasum
9 cm
Perut Kitab seperti buku
Membantu proses menggiling partikel makanan, menyerap air bersama pakan.
5.
Abomasum
40,7 cm
Perut sejati
Tempat permulaan pencernaan enzimatis dan pencernaan protein.
6.
Usus halus
354 cm
Halus dan panjang
Sebagaipencernaan enzimatis dan absorpsi, terjadi proses penyerapan sari-sari makanan.
7.
Sekum
36 cm
Berada diantara usus halus dan besar
sebagai fermentasi oleh mikroba
8.
Usus Besar
340 cm
Bentuknya besar dan panjang
Sebagai tempat absorbsi air. sisa-sisamakanan yang tidak diserap dikirim ke usus besar. Setelah mengalami penyerapan air, sisa makanan berupa ampas dikeluarkan melalui anus.
9.
Rectum
60 cm
Panjang dan tidak terlalu besar
Tempat pengeluaran terakhir.
Sumber: Laboratorium  Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas  Islam Negeri  Alauddin, Makassar, 2015.

B.     Pembahasan
Sapi merupakan binatang pemamah biak, bertanduk, berkuku genap, berkaki empat, dan bertubuh besar. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Sapi merupakan hewan pemamah biak, yang berarti mempunyai sistem pencernaan yang memungkinkan penggunaan makanan jika dicerna sebanyak dua kali  kemudian dicerna khusus oleh  mikroorganisme dalam rumen. Organ-organ sistem pencernaan sapi dimulai dari mulut, esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, usus halus, sekum, usus besar, dan terakhir anus.
Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui organ-organ sistem pencernaan pada sapi, mengetahui ukuran setiap organ-organ pencernaan sapi yang dimulai dari esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, usus halus, sekum, usus besar, dan anus, mengetahui bentuk luar dan bentuk dalam organ pencernaan tersebut, serta mengetahui fungsi dari masing-masing organ tersebut.
1.    Esophagus
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil panjang Esophagus pada organ pencernaan sapi yang diawetkan 3 hari yang lalu 45 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu kita tidak menemukan organ Esophagusnya. bentuk dari Esophagus yaitu memanjang dan terdapat seperti cincin-cincin disepanjang salurannya atau seperti pipa. Esophagus berfungsi sebagai jalan makanan menuju perut besar atau lambung.
Hal ini sesuai dengan pendapat Prakkassi (2004), yang menyatakan bahwa organ yang terlalu lama diawetkan akan seringkali terpisah dari organ lain sehingga dapat menyebabkan organ tersebut hilang atau tidak dapat diamati dengan dengan.
2.      Rumen
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil ukuran rumen yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 65 cm sedangkan ukuran rumen yang diawetkan 1 tahun yang lalu 60 cm, bentuk dari rumen adalah ukurannya besar dan bentuknya tidak beraturan, sedangkan bentuk dalam rumen terdapat papilla yang berbulu atau seperti handuk. Fungsi rumen adalah sebagai tempat pencernaan fermentatif, sebagai penampung sementara makanan setelah dicerna, dan absorsi VFA.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim (2009), yang menyatakan bahwa pada organ yang telah diukur hasilnya akan berbeda yang disebabkan oleh organ-organ tersebut sudah diawetkan sehingga akan mengalami pengerutan.
3.      Retikulum
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa ukuran reticulum yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 30 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu 35 cm. Bentuk  dari retikulum adalah ukurannya kecil dan bentuknya tidak beraturan dan seperti sarang lebah. Fungsi retikulum adalah sebagai perombak partikel kasar menjadi lebih sederhana pada saat regurtasi rumen dan menyeleksi benda-benda asing yang ikut masuk bersama pakan.
Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Hakim (2009), yang menyatakan bahwa pada organ yang telah diukur hasilnya akan berbeda yang disebabkan oleh organ-organ tersebut sudah diawetkan sehingga akan mengalami pengerutan.
4.    Omasum
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa ukuran omasum yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 10 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 9 cm, bentuk dari omasum adalah bundar, padat, dan keras dan juga seperti sususan buku. Fungsi omasum adalah sebagai penyaring partikel yang lebih besar, serta penyerapan air, dan nutrisi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Harfiah (2009), yang menyatakan bahwa ukuran yang berbeda pada organ pencernaan ini dipengaruhi oleh umur ternak yang masih muda atau penyambungan organ-organ pencernaan  tersebut sudah ada yang putus.
5.    Abomasum
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa ukuran abomasum yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 45 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 40,7 cm. Bentuk dari abomasum adalah lonjong dan kenyal dan sering disebut perut sejati. Fungsi abomasum adalah Sebagai tempat terjadi pencernaan secara kimiawi, yaitu memecah protein, karbohidrat, dan lemak.
Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Hakim (2009), yang menyatakan bahwa pada organ yang telah diukur hasilnya akan berbeda yang disebabkan oleh organ-organ tersebut sudah diawetkan sehingga akan mengalami pengerutan.

6.      Usus Halus
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa ukuran usus halus yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 105 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 354 cm. Bentuk dari usus halus adalah panjang, kenyal, serta memiliki sekat atau lataran duodenum, jejunum, dan ileum. Fungsi usus halus adalah sebagai tempat pemecahan nutrisi pakan menjadi lebih sederhana yang dilakukan oleh enzim.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hasanah (2011), yang menyatakan bahwa usus halus mempunyai bentuk panjang, halus dan mudah memanjang. Maka dari itu organ yang terlalu lama diawetkan akan mengalami penambahan panjang karena terlalu sering diukur panjangnya dan menyebabkan ukurannya selalu berbeda.
7.    Sekum
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa ukuran sekum yang diawetkan 3 hari yang lalu adalah 40 cm sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 36 cm. Bentuk  sekum adalah lebih pendek dibandingkan dengan usus halus, terdapat antara usus halus dan usus besar. Fungsi sekum adalah Sebagai menyerap cairan dan garam yang masih tersisa setelah selesai pencernaan dibantu oleh mikroorganisme yang terdapat di dalam sekum.
Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Hakim (2009), yang menyatakan bahwa pada organ yang telah diukur hasilnya akan berbeda yang disebabkan oleh organ-organ tersebut sudah diawetkan sehingga akan mengalami pengerutan.

8.    Usus Besar
Berdasarkan hasil pengamatan diatas didapat, bahwa ukuran usus besar yang diawetkan 3 hari yang lalu dalah 260 cm  sedangkan yang diawetkan 1 tahun yang lalu adalah 340 cm. Bentuk usus besar adalah bentuknya besar dan pendek, serta ukurannya lebih panjang dari sekum, dan kenyal. Fungsi usus besar adalah sebagai tempat absorbsi air, tempat terjadinya pembusukan pakan, mengeleminasi sisa makanan berupa ampas dikeluarkan melalui anus
Hal ini sesuai dengan pendapat Tim Dosen (2015), yang menyatakan bahwa ukuran organ dapat berbeda-berbeda karena disebabkan oleh  umur ternak yang masih muda, penyambungan organ organ pencernaan  tersebut sudah ada yang putus, perbedaan bangsa ternak, serta kurang ketelitian pada saat pengukuran.









BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sistem pencernaan pada ternak sapi memiliki saluran pencernaan yaitu mulai dari mulut berfungsi untuk mengunyah pakan, pharyx berperan dalam proses ruminansi dan eruktasi, esophagus sebagai sebagai jalan makanan menuju perut besar atau lambung, rumen berperan tempat utama proses pencernaan yang berlangsung secara fermentatif, retikulum berfungsi membantu proses ruminasi bolus, sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen, omasum sebagai pembantu proses menggiling makanan, abomasum berperan sebagai tempat pencernaan enzimatiz, usus kecil proses pnyerapan sari-sari makanan, sekum sebagai fermentasi mikroba, usus besar sebagai tempat absorpsi air dan anus sebagai tempat pembuangan akhir.
B. Saran
Adapun saran dari praktikum ini yaitu diharapkan kepada praktikan sebelum melakukan praktikum sebaiknya alat dan bahan telah di siapkan terutama juga pada sarung tangan supaya tidak bersentuhan lansung pada formalin karna akan merusak kulit.



DAFTAR PUSTAKA

Aak, 2001. Sapi Potong dan Kerja. Yogyakarta : Kanisius.
Ardianto, Aris. 2014.  “Ternak Ruminansia dan Non Ruminansia”. http:// ayisakin. blog spot.com/ 2012/03/ ternak-ruminansia-dan-non- ruminansia.html. (28 November  2015).

Biologigonz. 2014. Pencernaan Ruminansia. http:// biologigonz.blogspot. com/
              /01/pencernaan-ruminansia. html. (Diakses tanggal 28 November 2015).

Blakely. 2006. Ilmu Peternakan edisi IV. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Dudee, 2014. Pencernaan Ruminansiahttp://dodee88. wordpress.com/2009/01/03/67/. (Diakses pada tanggal 28 November  2015).

Harfiah. 2009. Peningkatan Kualitas Pakan Berserat Dengan Perlakuan Alkali, Amoniasi, Dan Fermentasi Dengan Mikroba Selulitik Dan Lignolitik. Makassar.  Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.
Hasahah. 2011. Peranan Syaraf dan Hormon (Neuroendrokin) Dalam Pergerakan Lambung Pada Sistem Pencernaan Ruminansia. Bandung. FP MIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Hernawati. 2011. Peranan Syaraf dan Hormon (Neuroendrokin) Dalam Pergerakan Lambung Pada Sistem Pencernaan Ruminansia. Bandung: FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Nursyamfarm, 2014 Sistem Pencernaan Ruminansia. file:///C:/Users/sarjana/Documents/TR%20N%20R.htm. (Diakses 28 November 2015).

Prakkasi, A. 2004. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Jakarta: UI Press.

Rahman, Abd. 2010. Hewan Ternak yang Halal di Komsumsi. Budi Luhur: Malang.

Soetanto, Hendrawan. 2007. Bahan Kuliah Nutrisi Ruminansia. Malang: Universitas  Brawijaya Press.

Syahrir, dkk. 2008. Efektivitas Daun Murbei Sebagai Pengganti Konsentrat dalam Sistem Rumen in Vitro. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian.
Tim Dosen. 2015. Penuntun Praktikum Ilmu Ternak Ruminansia dan Non Ruminansia. Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin.